Teknologi Mobil Listrik yang Lebih Efisien Bahan Bakar

Teknologi Mobil Listrik yang Lebih Efisien Bahan Bakar
Spread the love

Mobil listrik menawarkan konsumsi energi lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional. Hal itu tentunya disebabkan karena mobil menggunakan listrik dibandingkan bahan bakar, yang notabene lebih murah. Selain itu, masih sedikit orang mengetahui bahwa mobil listrik yang hemat ini menggunakan teknologi konsumsi energi yang lebih efisien. Banyak orang berpendapat bahwa mobil listrik adalah masa depan mobil berbahan bakar hemat energi.

Mobil listrik yang menggunakan teknologi full Battery Electric Vehicle (BEV) digunakan pada mobil listrik agar mobil listrik mampu mengisi daya di rumah. Salah satu mobil listrik yakni DFSK Glory E3 diketahui mampu menempuh jarak 405 kilometer setelah mengisi satu kali pengisian bahan bakar listrik sebesar 52,56 Kwh. Perhitungan efisiensi mobil listrik ini diasumsikan dengan pembelian satu token listrik senilai Rp 100.000 yang biasanya menjangkau konsumsi listrik hingga 66 Kwh. Dengan uang sejumlah Rp 100.000 tersebut, mobil bisa diisi daya listriknya untuk menempuh perjalanan sejauh 405 kilometer atau setara dengan jarak tempuh Jakarta-Semarang. Efisiensi yang ditunjukkan mobil listrik ini bahkan mampu menyaingi mobil konvensional yang paling irit, yakni LCGC.

Mobil listrik juga ada yang sudah dilengkapi dua port pengisian daya, yakni port normal charging dan port fast charging. Pengisian daya listrik pada port normal charging adalah selama 8 jam, sedangkan pengisian bahan bakar melalui port fast charging hanyalah sekitar 30 menit untuk bisa mengisi daya hingga 60%.

Saat ini, telah beredar beberapa jenis mobil listrik di pasaran Indonesia. Pertama, adalah mobil listrik jenis hybrid yang memiliki perpaduan dengan energy combustion untuk menggerakkan dinamo listrik sehingga dapat menyimpan daya di baterai. Kedua, ada Plugin Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yakni mobil listrik yang menggunakan teknologi baterai sehingga memungkinkan penggunaan charger plugin untuk mengisi daya. Ketiga, ada mobil listrik jenis full BEV yang menggunakan baterai sebagai alat penyimpan bahan bakar satu-satunya yang pengisian dayanya hanya bisa dengan dicharge.

Selain efisiensi dari segi bahan bakar, mobil listrik juga merupakan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan. Sumber energi yang digunakan, yakni energi listrik tidak menghasilkan zat buang, meski begitu, penggunaan mobil listrik dalam jangka panjang memerlukan perhatian pada segi efek yang ditimbulkan. Disebut-sebut, baterai sebagai alat penyimpan daya pada mobil listrik bisa menimbulkan masalah limbah, karena baterai itu hanya bisa dipakai untuk jangka waktu beberapa tahun saja, dan jika diganti dengan baterai baru, dikalikan dengan jumlah seluruh pengguna mobil listrik, maka limbah baterai yang akan ditimbulkan sangat banyak. Selain itu, baterai listrik untuk mobil listrik juga memiliki berat yang luar biasa.

Berat baterai listrik pada bus listrik, misalnya, adalah 2 ton sedangkan berat bus itu sendiri 1 ton. Sehingga hal ini menjadi perhatian publik jika saja penggunaan mobil listrik dibuka secara massal. Perlu adanya infrastruktur yang memadai guna menangani proses daur ulang baterai mobil listrik ini. Mobil listrik memang tidak menghasilkan limbah dalam jangka pendek, namun penggunaannya dalam jangka panjang bisa menghasilkan emisi yang luar biasa dalam bentuk limbah baterai. Hal itu memerlukan pengelolaan yang serius. Dilihat dari pertimbangan ini, proses elektrifikasi kendaraan bermotor di Indonesia masih perlu peninjauan ulang, karena membutuhkan infrastruktur yang memadai guna menangani dampak yang terjadi akibat penggunaan kendaraan listrik itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!